Minggu, 29 Maret 2015

Kematian Orang Beriman

Kematian Orang Beriman

Keyakinan org beriman akan adanya kehidupan sesudah kematian menyebabkan dirinya selalu berada dalam mode standby menghadapi kematian. Ia memandang kematian sebagai suatu keniscayaan. Tidak seperti org kafir yang selalu saja berusaha utk menghindari kematian. Org beriman sangat dipengaruhi oleh pesan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam yg bersabda:

“Banyak-banyaklah mengingat penghapus kenikmatan, yakni kematian.” (HR Tirmidzi 2229)

Sedangkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu pernah berkata: “Bila manusia meninggal dunia, maka pada saat itulah ia bangun dari tidurnya.” Subhanallah...! Berarti beliau ingin mengulas bahwa manusia yg menemui ajalnya merupakan manusia yg justru baru mulai menjalani kehidupan sebenarnya, sedangkan kita yang masih hidup di dunia ini justru masih ”belum bangun”. Sungguh, ucapan ini sangat sejalan dgn firman Allah ta’aala:

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau & main-main. Serta sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 64)

Pantas bilamana Ali radhiyallahu ’anhu pula yang berkata: “Dunia pergi menjauh & akhirat datang mendekat. Karena itu, jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi budak-budak dunia. Sekarang waktunya beramal, & tidak ada penghisaban. Sedangkan besok waktunya

penghisaban, ngga ada amal.”

Bagaimanakah kematian orang beriman? Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:

“Orang beriman meninggal dgn kening penuh keringat.” (HR Ahmad 21886)

Penulis produktif Aidh Al-Qarni menulis: ”Saya menyeru setiap orang tua agar mengingat kematian. Sadar bahwa dirinya sudah mendekat maut & tdk mungkin dpt lari darinya. Jadi, siapkan diri untuk menemui Allah. Karena itu, sudah sepantasnya ia menjauhi akhir kehidupan yg tidak bagus & memperbanyak amal kebaikan sehingga dapat berjumpa dgn Allah ta’aala dlm keadaan diridhai.”
http://modernlivingroom.org/design/modern-living-room/

Ambillah keteladanan dari kematian Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu. Ia ditikam oleh Abu Lu’luah saat sedang mengimami sholat subuh. Umarpun jatuh tersungkur bersimbah darah. Dlm keadaan seperti itu ia gak ingat isteri, anak, harta, keluarga, sanak saudara atau kekuasaannya. Yang ia ingat hanyalah ”Laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, hasbiyallah wa ni’mal wakil.” Setelah itu ia bertanya kepada sahabatnya: ”Siapakah yg telah menikamku?”
”Kau ditikam oleh Abu Lu’luah Al-Majusi.”
Umar radhiyallahu ’anhu lalu berkata: ”Segala puji bagi Allah ta’aala yang membuatku terbunuh di tangan org yang tidak pernah bersujud kepada-Nya walau hanya sekali.” Umar-pun mati syahid.

Ketika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menghadapi sakaratul maut beliau mengambil secarik kain serta menaruhnya di wajah beliau karna parahnya kondisi yg beliau hadapi. Lalu beliau berdoa:

“Laa ilaha illallah… Laa ilaha illallah… Laa ilaha illalla. Sungguh kematian tersebut sangat pedih. Ya Allah, bantulah abdi menghadapi sakratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakratul maut tersebut buatku.” (HR Bukhary-Muslim)
Aisyah radhiyallahu ’anha menuturkan: “Demi Allah, beliau mencelupkan kain tersebut ke air lalu meletakkannya di atas wajah beliau seraya berdoa:

”Ya Allah, bantulah gw menghadapi sakratul maut.”

Saudaraku, marilah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian yg bisa datang kapan saja. Kematian yang sungguh mengandung kepedihan bagi setiap manusia yg mengalaminya. Hingga kekasih Allah ta’aala saja, yakni Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam berdoa agar Allah ta’aala ringankan bagi dirinya sakaratul maut. Tak ada seorangpun yang tak bakal merasakan kepedihan sakratul maut.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS Ali Imran 185)

Marilah saudaraku, kita mempersiapkan diri menghadapi kematian dgn segera bertaubat memohon ampunan & rahmat Allah ta’aala sebelum terlambat. Sebab begitulah kematian org kafir. Suatu bentuk kematian yg diwarnai penyesalan yang sungguh terlambat.

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), sampai apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ”Ya Tuhanku kembalikanlah abdi (ke dunia), agar ane berbuat amal yang saleh terhadap yang sudah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu merupakan perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) hingga hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun 99-100)

Seandainya kamu semua berada di rumahmu, pastilah orang-orang yang sudah ditetapkan utk mati keluar ke tempat mereka terbunuh (QS Ali Imran 3; 154)

Kematian itu milik semua makhluk Allah, manusia, hewan, tumbuhan termasuk bangsa malaikat serta setan semuanya akan merasakan apa yang namanya kematian.

Kematian merupakan sebuah tahapan dari kehidupan yang kejadiannya bersifat pasti. Ia akn datang menjemput tanpa dapat dihindari. Kehadirannya sering menimbulkan ketakutan pada awalnya serta senantiasa melahirkan kesedihan pada akhirnya.

Bahkan, kesedihan yang berkepanjangan dan berlarut-larut. Kematianlah yang membuat seluruh kenikmatan & kebahagiaan terputuskan yang setelah itu diganti oleh penderitaan dlm kehidupan dunia.

Kematian pula yang membuat hubungan antara orang-orang yang dicintai serta yg mencintai terpisahkan. Karna kematian, seseorang mesti meninggalkan harta benda yg begitu dicintai, begitu dibanggakan serta begitu diagungkan serta sejumlah harta benda yg diklaim merupakan miliknya sendiri.

Alhaakumut takaatsuru hattaa zurtumul maqabir; bermegah-megahan sudah melalaikan kalian hingga kalian sampai di alam kubur ( Q.S. At-Takatsur, 102:1-2)

10 Fakta Unik dan Menarik Tentang Parfum Modern Living Room

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar