Minggu, 29 Maret 2015

Perilaku Agresif Remaja

Perilaku Agresif Remaja


Hari senin tgl 23 kemarin hati aku terasa miris ketika melihat berita di sebuah stasiun televisi swasta, di mana dua kelompok remaja yg masih mengenakan seragam putih-biru terlibat baku-hantam di sebuah jalan ibu kota Jakarta. Ya, itulah anak-anak pelajar SLTP kami yg sedang saling serang satu sama lainnya, alias tawuran.

Kejadian tersebut langsung mengingatkan ane pada 1 tahun yg lalu, dimana warga kami digegerkan dgn tindakan-tindakan menyimpang yg dilakukan oleh remaja kita, di Bandung dgn genk Motornya, di Pati dgn genk Neronya, dan di tempat-tempat lainnya yang ngga sempat terekspos oleh media. Itulah salah satu sisi kehidupan remaja di negara tercinta kami ini, yang konon akn menjadi generasi penerus bangsa.

Bagi warga kita, aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah ialah berita harian. Seperti yg kami ketahui bersama utk saat ini beberapa televisi (baik nasional maupun lokal) bahkan membuat program-program khusus yg menyiarkan berita-berita tentang aksi kekerasan.

Aksi-aksi kekerasan dpt terjadi di mana saja, seperti di jalan-jalan, di sekolah, di kompleks-kompleks perumahan, bahkan di pedesaan. Aksi itu dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yg biasa dikenal sebagai tawuran pelajar/masal adalah hal yg telah terlalu sering kita saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini sangatlah memprihatinkan bagi kami semua
Aksi-aksi kekerasan yang sering dilakukan remaja sebenarnya ialah prilaku agresi dari diri individu atau kelompok. Agresi sendiri menurut Scheneiders (1955) ialah luapan emosi sebagai reaksi terhadap kegagalan individu yg ditampakkan dalam bentuk pengrusakan terhadap orang atau benda dgn unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata (verbal) serta perilaku non verbal.

Agresif menurut Murry (dalam Halll & Lindzey,1993) didefinisiakan sebagi suatui cara utk melawan dgn sangat kuat, berkelahi, melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum org lain. Atau secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan utk melukai orang lain atau merusak milik org lain.

Perilaku agresif menurut David O. Sars (1985) adalah setiap perilkau yg bertujuan menyakiti org lain, bisa jg ditujukan kepada perasaan ingin menyakiti org lain dlm diri seseorang.
http://modernlivingroom.org/decoration/living-room-wall-decor/

Sedangkan menurut Abidin (2005) agresif mempunyai beberapa karakteristik. Karakteristik yg pertama, agresif merupakan tingkah laku yg bersifat membahayakan, menyakitkan, dan melukai orang lain. Karakteristik yang kedua, agresif ialah suatu tingkah laku yang dilakukan seseorang dgn maksud utk melukai, menyakiti, serta membahayakan org lain atau dengan kata lain dilakukan dengan sengaja. Karakteristik yang ketiga, agresi tdk cuma dilakukan untuk melukai korban secara fisik, tapi jg secara psikis (psikologis), misalnya melalui kegiatan yg menghina atu menyalahkan.

Dari beberapa definisi yg sudah dikemukakan maka dapat kami tarik kesimpulan bahwa prilaku agresif adalah sebuah tindakan kekerasan baik secara verbal maupun secara fisik yg disengaja dilakukan oleh individu atau kelompok terhadap org lain atau objek-objek lain dgn tujuan utk melaukai secara fisik maupun psikis.

Pertanyaannya setelah itu ialah faktor-faktor apa saja yg dapat menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa kasus-kasus sepele dlm kehidupan sosial masyarakat sehari-hari bisa tiba-tiba berubah menjadi bencana besar yg berakibat hilangnya nyawa manusia? Mengapa Utk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya kami memahami terlebih dahulu apa saja penyebab perilaku agresi.

Menurut Davidoff perilaku agresif remaja dipengaruhi oleh beberapa faktor:

1. Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku agresif yaitu:

a. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yg dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang tidak mudah sampai yg paling gampang dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang berasal dari berbagai macam lebih tidak sulit marah dibandingkan betinanya.

b. Sistem otak yg gak terlibat dlm agresi ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yg mengendalikan agresi. Pada hewan sederhana marah bisa dihambat atau ditingkatkan dengan merangsang sistem limbik (daerah yang memunculkan kenikmatan pada manusia) sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan & kekejaman. Prescott (Davidoff, 1991) menyatakan bahwa org yg berorientasi pada kenikmatan akan sedikit melakukan agresi sedangkan org yang gak pernah mengalami kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk mengerjakan kekejaman & penghancuran (agresi). Prescott percaya bahwa keinginan yg kuat utk menghancurkan dikarenakan oleh ketidakmampuan utk menikmati sesuatu hal yang disebabkan cedera otak karna kurang rangsangan sewaktu bayi.

c. Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks yang sebagian ditentukan faktor keturunan) jg dapat mempengaruhi perilaku agresi. Dlm suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteropada tikus & beberapa hewan lain (testosteron adalah hormon androgen utama yang memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus itu berkelahi semakin sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang telah dikebiri (dipotong alat kelaminnya) akn menjadi jinak. Sedangkan pada cewe yang sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogendan progresteronmenurun jumlahnya akibatnya banyak gadis melaporkan bahwa perasaan mereka tidak sulit tersinggung, gelisah, tegang serta bermusuhan. Selain itu banyak cewe yg mengerjakan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada ketika berlangsungnya siklus haid ini.

2. Faktor lingkungan
Yang mempengaruhi perilaku agresif remaja yaitu:

a. Kemiskinan
Remaja yang besar dalam lingkungan kemiskinan, maka perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan. Hal yang sangat menyedihkan merupakan dgn berlarut-larut terjadinya krisis ekonimi serta moneter menyebabkan pembengklakan kemskinan yg semakin tak terkendali. Hal ini berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar. Ya walau hrs kami akui bahwa faktor kemiskinan ini gak selalu menjadikan seseorang berperilaku agresif, dengan bukti banyak org di pedesaan yg walau hidup dlm keadaan kemiskinan tetapi ngga membuatnnya berprilaku agresif, lantaran dia telah mendapatkan keadaan dirinya apa adanya.

b. Anoniomitas
Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia menjadi sangat impersonal, artinya antara satu org dengan orang lain ngga lagi saling mengenal. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim (tidak mempunyai identiras diri). Bila seseorang merasa anonim ia cenderung berperilaku semaunya sendiri, lantaran ia merasa tak terikkat dgn norma masyarakat da kurang bersimpati dgn orang lain.

c. Suhu udara yg panas
Bila diperhatikan dgn seksama tawuran yang terjadi di Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tetapi bila musim hujan relatif tak ada peristiwa tersebut. Begitu jg dengan aksi-aksi demonstrasi yg berujung pada bentrokan dgn petugas keamanan yang biasa terjadi pada cuaca yg terik serta panas tetapi jika hari diguyur hujan aksi itu jg menjadi sepi.

Hal ini sesuai dgn pandangan bahwa suhu suatu lingkungan yang tinggi mempunyai dampak terhadap tingkah laku sosial berupa peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan & agresivitas massa lebih banyak terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et al, dlm Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992

3. Kesenjangan generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (gap) antara generasi anak dgn orang tuanya dapat terlihat dlm bentuk hubungan komunikasi yang semakin minimal serta seringkali tdk nyambung. Kegagalan komunikasi antara org tua serta anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku agresi pada anak.


4. Amarah
Marah merupakan emosi yg mempunyai cirri-ciri aktifitas system saraf parasimpatik yg tinggi dan adanya perasaan gak suka yang sangat kuat yang biasanya dikarenakan akarena adanya kesalahan yg muingkin nyata-nyata salah atau mungkin gak (Davidoff, Psikologi Suatu Pengantar, 1991). Pada ketika amrah ada perasaan kepingin menyerang, meninju, menghancurkan atau melempar sesuatu serta biasanya timbul pikiran yang kejam. Jika hal tersebut disalurkan maka terjadilah perilaku agresif.

5. Peran belajar model kekerasan
Model pahlawan-pahlawan di film-film seringkali mendapat imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal bisa menjadikan penonton akan semakin mendapat penguatan bahwa hal itu adalah hal yg menyenangkan serta dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dgn menyaksikan adegan kekerasan itu terjadi proses belajar peran model kekerasan serta hali ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku agresif.

6. Frustasi
Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh ssesuatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau tindakan tertentu. Agresi adalah salah satu cara merespon terhadap frustasi. Remaja miskin yang nakal ialah akibat dari frustasi yang behubungan dgn banyaknya waktu menganggur, keuangan yg pas-pasan & adanya kebutuhan yg hrs segera tepenuhi tetapi tidak mudah sekali tercap[ai. Akibatnya mereka menjadi tidak susah marah serta berprilaku agresi.

7. Proses pendisiplinan yg keliru
Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yg keras terutama dilakukan dgn memberikan hukuman fisik, bisa memunculkan berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga & Keberhasilan Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti akn membuat remaja menjadi seorang penakut, gak ramah dgn orang lain, membenci org yang memberi hukuman, kehilangan spontanitas serta kehilangan inisiatif dan pada akhirnya melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain.

Sejak manusia dilahirkan ke dunia ini ia akn melewati beberapa priode kehidupan hingga ketika dia sampai ke liang lahad. Masa kanak-kanak, remaja, dewasa, & kemudian menjadi orangtua, tak lebih hanyalah ialah suatu proses wajar dlm hidup yg berkesinambungan dari tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri, masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Demikian pula dgn masa remaja. Masa remaja sering dianggap sebagai masa yg paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering memunculkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini adalah masa yg paling menyenangkan dlm hidupnya. Oleh karna itu, dengan mengetahui faktor penyebab seperti yg dipaparkan di atas diharapkan bisa diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik & terutama para remaja sendiri dlm berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga aksi-aksi kekerasan baik dlm bentuk agresi verbal maupun agresi fisik bisa diminimalkan atau bahkan dihilangkan.

Khalil Gibran menceritakan bahwa anak ialah ibarat anak panah. Pertanyaannya, sudahkah anak panah ini memperoleh kebebasan untuk mengarahkan kemana yg ia tuju? Ataukah demi gengsi, atau apalah yg lain anak panah tersebut akn dibawa serta ditancapkan pada sasaran? Remaja adalah sebuah generasi dari suatu peradaban. Karenanya memiliki peran strategis dlm perencanaan pembangunan dan bahkan pada arah dan pelaku pembangunan itu sendiri. Namun demikian perlakuan yg salah pada remaja baik yang nakal maupun yang ngga oleh para orangtua serta pengambil kebijakan justru akan berakibat semakin buruk pada peradaban bangsa itu.

Pertanyaan terakhir adalah sudahkan kami mengambil langkah-langkah yang tepat guna mengarahkan perbuatannya kepada hal yg lebih positif?

Rahasia Dibalik 4 Logo Yang Paling Misterius Living Room Wall Decor

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar